Islam not Is-war!

Sigit Maryuwanto, Wirastomo

Dari era mythology Yunani hingga ratusan tahun nanti, dunia akan tetap berjalan dalam dualisme hitam putih, hidup mati, harapan keputusasaan, ada dan tiada. Dualisme yang telah memilukan ribuan kisah cinta. Orpheus Eurydice salah satunya. Kepedihan tertua yang berlangsung atas nama cinta.
Entah berapa ribu tahun berlalu, seorang pemuja luka bernama Anais Mitchell, kembali menyanyikan elegi ini dalam tragedi berjudul Hadestown. Bermula saat Orpheus menikahi Eurydice, sedang perekonomian Amerika tumbang di dasar kemiskinan. Hari demi hari hanya terisi cinta. Maharasa yang sayangnya tidak bisa menahan Eurydice dari godaan Hades, penguasa Hadestown. Kota bawah tanah yang memanen kemakmuran dari tetes keringat buruh tambang.
Berbekal cinta sejatinya, Orpheus menjelajahi sisi tergelap dunia, menuju Hadestown untuk menyelamatkan Eurydice. Tapi Hadestown adalah kota tanpa jalan keluar. Hanya bujuk rayu Persephone yang bisa menggerakan hati Hades, “mengijinkan” Orpheus membawa pulang Eurydice dengan syarat, tak sekali pun ia menoleh belakang.
Keraguan adalah karib ketakutan. Perjalanan keluar Hadestown yang penuh goda berubah jadi ratap panjang Orpheus. Eurydice hilang untuk selamanya.
Selama 57 menit, Anais menuturkan prosa liris ini dengan bantuan bregada indie folk Amerika, seperti Justin Vernon of Bon Iver (Orpheus), Greg Brown (Hades), Ani DiFranco (Persephone), The Haden Triplets (The Fates), Ben Knox Miller (Hermes), dan Anais sendiri berperan sebagai Eurydice.
Selain konsep lirik, kekuatan Hadestown adalah intepretasi Anais akan American indie folk yang tak terpaku musik country. Secara dinamis ia juga mengisahkannya dalam gaya bahasa gospel, ragtime, blues, early jazz, rock, swing, hingga avant-garde.
Hadestown sendiri, awalnya diciptakan sebagai materi live performance pada 2006. Bekerjasama dengan arranger Michael Chorney, sutradara Ben Matchstick dan 22 musisi Vermont, Anais membawa repertoar ini keliling penjuru New England. Proses panjang inilah yang menempatkan Hadestown jauh mengungguli concept album yang umum dibuat musisi rock. Sebuah masterpiece yang mendekati Phantom of the Opera dan Les Miserables.
“Because we have and they have not! Because they want what we have got! The enemy is poverty and the wall keeps out the enemy … That’s why we build the wall we build the wall to keep us free!”
Bukan sok religius ya, cuma mo coba memotret satu temuan menarik dari habit orang-orang di sekitarku. Most of my Muslim friends are willing to drink alcohol. Some of ‘em also doing sex before marriage, tapi hampir ngga ada yang mo makan babi. Alasannya simple… HARAM.
Setelah dicecer lebih jauh, beberapa ngeles dengan bilang babi itu ngga sehat. Tapi alkohol kan juga? Babi itu jorok. Ok, tapi have sex dengan PSK jauh-jauh lebih jorok.
Jadi kepikiran… andai ada mata kuliah Komunikasi Agama, mungkin para ulama bisa mengkonstruksi keengganan makan babi ini pada larangan agama lainnya, seperti maling, mabok, madat, main (judi), dan madon (wanita).
Well, ngga tau juga ya secara akunya juga sesat hehe… Tapi berani taruhan, banyak temen kalian yang seperti itu. Shalat ngga shalat, no pork i tell you!
* Muslim yang juga anti babi
The Fall of Dangdut
Tanpa musicianship berarti, suatu saat nanti Dangdut mungkin akan masuk dalam section golden memories. Ngga ada album baru, ngga ada penyanyi baru, hanya masa lalu. Ketakutan Rhoma Irama atas goyang Inul (terlepas apa motifnya) bisa jadi terbukti sudah. Bahwa artis Dangdut sendiri lah –dengan segala kegenitannya– yang telah menggali kubur mereka.