Would it be Their Final Frontier?

Entah usiaku yang makin tua atau modernisasi musik yang kian mengisolasi metal dari sincerity mereka di era 80an. Beberapa tahun terakhir, semakin susah mendapati album yang bakal aku spin puluhan kali. Album yang liriknya bakal aku ingat tanpa harus menghafal karena keseringan diputer. Lebih menyedihkan lagi, ini juga berlaku bagi Iron Maiden, band yang 15 tahun terakhir menjadi my last messiah. Well, I’m still and will always be a huge fan of them but their latest record keeps getting away from me.
The Final Frontier adalah operasi militer ke-15 dari bergada New Wave of British Heavy Metal ini. Berbekal 10 mesin tempur yang didominasi medium beat amunition, serangan kali ini tidak banyak menawarkan strategi baru. Cuma Satellite 15 dan Isle of Avalon yang unpredictable. Sisanya, lebih sekedar modifikasi perang-perang sebelumnya.
Dibuka Satellite 15-The Final Frontier, dua track yang dipaksa jadi satu. Sedang Satellite 15 begitu agressive dengan revolvering drum machine, Final Frontier adalah nomor standar yang biasa mereka gunakan mengawali tiga album sebelum ini.
Intro lagu kedua, El Dorado, bahkan mirip dengan Baracuda-nya Heart. Untung Mother of Mercy memberikan serangan powerful yang rasanya bakal jadi nomor wajib Maiden setelah ini (?). Berurutan setelah itu ada Coming Home yang terlalu melow dan The Alchemist yang terlampau tergesa-gesa.
Track ke-6, Isle of Avalon, adalah alasanku tetap menunggu release resmi album ini di Indonesia. Sebuah saga ala Seventh Son of a Sevent Son, tapi kali ini dengan nuansa futuristik. Layaknya invasi luar angkasa yang tak terduga, namun datang bertubi-tubi.
Tidak banyak yang bisa diceritakan dari empat nomor terakhir, kecuali barangkali menit 04-05 track The Man Who Would be King yang seingatku menjadi kali pertama Maiden menggunakan efek slide guitar, bersahutan dengan shredding melody yang kali ini justru menjadi layer kedua.
Meski puluhan review mengangkat topi untuk album ini, The Final Frontier hanya selangkah di depan Virtual X dan No Prayer for the Dying. Well, dengan usia para musisi yang sudah kepala lima, sepertinya memang berlebihan kalau aku berharap emosi meledak-ledak atau permainan yang impulsive. Usia juga yang menyisakan separo kegaharan vokal Bruce Dickinson. Nicko McBrain dengan usia 58 tentu juga sudah tak sedahsyat di Where Eagles Dare.
35 tahun perjalanan Iron Maiden telah membawa mereka ke titik aman dan terformulasi. Lebih sial lagi, symptom penuaan ini tidak mereka imbangi dengan simplicity. Durasi album Maiden semakin panjang. Jika album era 80an tak pernah lebih 60 menit, 3 album terakhir justru berkisar 70-80 menit dengan durasi per lagu 5-10 menit. Durasi yang jika tidak diimbangi dengan power, superb creativity, dan eksplorasi akan berujung pada kebosanan. Arus prog metal yang mengalir 10 tahun terakhir juga telah merubah progresivitas mereka jadi too polished.
Sungguh disayangkan jika album ini menjadi release terakhir Iron Maiden sebagaimana rumour sebelum ini. Metallica telah melakukan comeback release yang gemilang. Judas Priest tetap memperlihatkan tajinya di Nostradamus. Pun Ozzy berhasil mempertahankan singgasana kegelapan di album terakhir. Semoga ada kesempatan bagi Maiden untuk memperbaiki kekalahan ini dan menepati janji mereka untuk Die with Your Booth On. Well, not necessarily has to be as the 80’s glory but it should be as a Turkish coffee. Up the Irons!









