Aug 31 2010

Would it be Their Final Frontier?

Entah usiaku yang makin tua atau modernisasi musik yang kian mengisolasi metal dari sincerity mereka di era 80an. Beberapa tahun terakhir, semakin susah mendapati album yang bakal aku spin puluhan kali. Album yang liriknya bakal aku ingat tanpa harus menghafal karena keseringan diputer. Lebih menyedihkan lagi, ini juga berlaku bagi Iron Maiden, band yang 15 tahun terakhir menjadi my last messiah. Well, I’m still and will always be a huge fan of them but their latest record keeps getting away from me.

The Final Frontier adalah operasi militer ke-15 dari bergada New Wave of British Heavy Metal ini. Berbekal 10 mesin tempur yang didominasi medium beat amunition, serangan kali ini tidak banyak menawarkan strategi baru. Cuma Satellite 15 dan Isle of Avalon yang unpredictable. Sisanya, lebih sekedar modifikasi perang-perang sebelumnya.

Dibuka Satellite 15-The Final Frontier, dua track yang dipaksa jadi satu. Sedang Satellite 15 begitu agressive dengan revolvering drum machine, Final Frontier adalah nomor standar yang biasa mereka gunakan mengawali tiga album sebelum ini.

Intro lagu kedua, El Dorado, bahkan mirip dengan Baracuda-nya Heart. Untung Mother of Mercy memberikan serangan powerful yang rasanya bakal jadi nomor wajib Maiden setelah ini (?). Berurutan setelah itu ada Coming Home yang terlalu melow dan The Alchemist yang terlampau tergesa-gesa.

Track ke-6, Isle of Avalon, adalah alasanku tetap menunggu release resmi album ini di Indonesia. Sebuah saga ala Seventh Son of a Sevent Son, tapi kali ini dengan nuansa futuristik. Layaknya invasi luar angkasa yang tak terduga, namun datang bertubi-tubi.

Tidak banyak yang bisa diceritakan dari empat nomor terakhir, kecuali barangkali menit 04-05 track The Man Who Would be King yang seingatku menjadi kali pertama Maiden menggunakan efek slide guitar, bersahutan dengan shredding melody yang kali ini justru menjadi layer kedua.

Meski puluhan review mengangkat topi untuk album ini, The Final Frontier hanya selangkah di depan Virtual X dan No Prayer for the Dying. Well, dengan usia para musisi yang sudah kepala lima, sepertinya memang berlebihan kalau aku berharap emosi meledak-ledak atau permainan yang impulsive. Usia juga yang menyisakan separo kegaharan vokal Bruce Dickinson. Nicko McBrain dengan usia 58 tentu juga sudah tak sedahsyat di Where Eagles Dare.

35 tahun perjalanan Iron Maiden telah membawa mereka ke titik aman dan terformulasi. Lebih sial lagi, symptom penuaan ini tidak mereka imbangi dengan simplicity. Durasi album Maiden semakin panjang. Jika album era 80an tak pernah lebih 60 menit, 3 album terakhir justru berkisar 70-80 menit dengan durasi per lagu 5-10 menit. Durasi yang jika tidak diimbangi dengan power, superb creativity, dan eksplorasi akan berujung pada kebosanan. Arus prog metal yang mengalir 10 tahun terakhir juga telah merubah progresivitas mereka jadi too polished.

Sungguh disayangkan jika album ini menjadi release terakhir Iron Maiden sebagaimana rumour sebelum ini. Metallica telah melakukan comeback release yang gemilang. Judas Priest tetap memperlihatkan tajinya di Nostradamus. Pun Ozzy berhasil mempertahankan singgasana kegelapan di album terakhir. Semoga ada kesempatan bagi Maiden untuk memperbaiki kekalahan ini dan menepati janji mereka untuk Die with Your Booth On. Well, not necessarily has to be as the 80’s glory but it should be as a Turkish coffee. Up the Irons!


Apr 23 2010

From the Hadestown She Rises

Dari era mythology Yunani hingga ratusan tahun nanti, dunia akan tetap berjalan dalam dualisme hitam putih, hidup mati, harapan keputusasaan, ada dan tiada. Dualisme yang telah memilukan ribuan kisah cinta. Orpheus Eurydice salah satunya. Kepedihan tertua yang berlangsung atas nama cinta.

Entah berapa ribu tahun berlalu, seorang pemuja luka bernama Anais Mitchell, kembali menyanyikan elegi ini dalam tragedi berjudul Hadestown. Bermula saat Orpheus menikahi Eurydice, sedang perekonomian Amerika tumbang di dasar kemiskinan. Hari demi hari hanya terisi cinta. Maharasa yang sayangnya tidak bisa menahan Eurydice dari godaan Hades, penguasa Hadestown. Kota bawah tanah yang memanen kemakmuran dari tetes keringat buruh tambang.

Berbekal cinta sejatinya, Orpheus menjelajahi sisi tergelap dunia, menuju Hadestown untuk menyelamatkan Eurydice. Tapi Hadestown adalah kota tanpa jalan keluar. Hanya bujuk rayu Persephone yang bisa menggerakan hati Hades, “mengijinkan” Orpheus membawa pulang Eurydice dengan syarat, tak sekali pun ia menoleh belakang.

Keraguan adalah karib ketakutan. Perjalanan keluar Hadestown yang penuh goda berubah jadi ratap panjang Orpheus.  Eurydice hilang untuk selamanya.

Selama 57 menit, Anais menuturkan prosa liris ini dengan bantuan bregada indie folk Amerika, seperti Justin Vernon of Bon Iver (Orpheus), Greg Brown (Hades), Ani DiFranco (Persephone), The Haden Triplets (The Fates), Ben Knox Miller (Hermes), dan Anais sendiri berperan sebagai Eurydice.

Selain konsep lirik, kekuatan Hadestown adalah intepretasi Anais akan American indie folk yang tak terpaku musik country. Secara dinamis ia  juga mengisahkannya dalam gaya bahasa gospel, ragtime, blues, early jazz, rock, swing, hingga avant-garde.

Hadestown sendiri, awalnya diciptakan sebagai materi live performance pada  2006. Bekerjasama dengan arranger Michael Chorney, sutradara Ben Matchstick dan 22 musisi Vermont, Anais membawa repertoar ini keliling penjuru New England. Proses panjang inilah yang menempatkan Hadestown jauh mengungguli concept album yang umum dibuat musisi rock. Sebuah masterpiece yang mendekati Phantom of the Opera dan Les Miserables.

“Because we have and they have not! Because they want what we have got! The enemy is poverty and the wall keeps out the enemy … That’s why we build the wall we build the wall to keep us free!”


Jan 5 2010

Hai Apa Kabar… Musik Dangdut Kita?

Soneta

The Fall of Dangdut

Tanpa musicianship berarti, suatu saat nanti Dangdut mungkin akan masuk dalam section golden memories. Ngga ada album baru, ngga ada penyanyi baru, hanya masa lalu. Ketakutan Rhoma Irama atas goyang Inul (terlepas apa motifnya) bisa jadi terbukti sudah. Bahwa artis Dangdut sendiri lah –dengan segala kegenitannya– yang telah menggali kubur mereka.

Continue reading


Nov 8 2009

sing along to múm

Electronic Ensemble kayna adalah istilah paling pas buat mendeskripsikan múm. Di tangan paguyuban yang didirikan duo multi-instrumentalis Örn Tynes-Smárason ini, musik elektro menjadi begitu analog dan membutuhkan kerjasama instrument lain untuk menghasilkan komposisi utuh.mum1Instead of repetitive dance beat, múm adalah sebuah literatur hybrid yang menggabungkan digital sound-processor dengan pita suara, gitar, string, xylophone, glockenspiel, akordeon, harmonika, flute, bahkan peluit serta belasan wacky-sound yang mereka jahit dengan teliti menjadi well- structured composition nan detail, tapi terasa minimalist sesampainya di telinga. Kita bisa menikmati 1st layernya sebagai hiburan easy listening atau masuk lebih jauh, memilah-milah belasan layer suara di dalamnya. Continue reading


Oct 30 2009

MySpace Wizard!

Ocean Eyes

“I’ve been to the dentist a thousand times so I know the drill
I smooth my hair, sit back in the chair but somehow I still get the chills”

Hehe, lirik yang aneh. Tapi bener sih, berapa banyak di antara kita yang masih merinding kalo duduk di kursi dokter gigi. Ketakutan ini berhasil diangkat Owl City, one man band beranggotakan Adam Young, menjadi lagu Dentist Care. Selain nomor unik ini, ada 11 lagu lain di album Ocean Eyes yang kesemuanya seolah mengajak kita menjelajahi dunia puisi sarat imajinasi, keluar dari paritas cinta yang menye-menye. Mulai dari impian terbang bersama kunang-kunang sampe persahabatan dengan ikan di laut… Continue reading


Sep 15 2009

An Outcast Named Colin Bass

An Outcast of the Islands

Jelas album lama, tapi dua bulan terakhir, album ini terus menghantui teman kantor di sebelah saya. Secara keseluruhan, An Outcast of the Islands adalah tipikal album Camel, namun dengan bubuhan folk music. Terlebih album ini melibatkan Andrew Latimer di seluruh lagu dan Dave Stewart yang notabene juga drummer cabutan Camel. Continue reading


Sep 15 2009

Freak Kitchen on the Move

Move

Freak Kitchen bukanlah nama besar di blantika musik progressive. Bisa jadi sebagian kita melihat trio ini sebagai band metal semata. Namun jika Anda mencari progresi nada tanpa batas, imajinasi tanpa beban pattern, atau kejeniusan musik tanpa harus terdengar rumit, band ini layak didengarkan. Continue reading


Sep 15 2009

Viki Sianipar’s Indonesian Beauty

VS

Suatu sore di 2007, Shaaban Yahya terlantun seharian di kamar saat teman sebelah mengetok pintu sambil menyodorkan CD Indonesian Beauty. Saya pun jatuh cinta pada pendengaran pertama. Continue reading


Sep 15 2009

Welcome to the Trisector

VDGG

Makin tua makin jadi. Dengan semua musisi berusia 60 tahun-an, Trisector menurut saya adalah album dahsyat yang membubuhkan elemen blues dan jazz ke dalam musik rock. Tiap lagu diracik pas, baik durasi, pemilihan dan progresivitas nada, serta aksen yang disisipkan tiap musisi. Urutan lagu juga tertata rapi sehingga tidak terjaga dari bosan. Continue reading


Sep 14 2009

Anyone, Anyone?

anyone2

Sale section di toko kaset selalu menarik perhatian karena puluhan kali saya menemukan rekaman dahsyat di sana. Mulai dari albumnya Jon  Anderson, Camel, Peter Bardens, Roger Waters, Conspiracy,  Tiles, Focus, Supertramp, Marillion, hingga Anyone.

Nama terakhir jelas paling tidak terkenal. Sampai sekarang pun album self title mereka masih sering teronggok dengan banderol 15 – 6 rb (baru berupa kaset). Continue reading