Feb 6 2010

No Pork at All!

Bukan sok religius ya, cuma mo coba memotret satu temuan menarik dari habit orang-orang di sekitarku. Most of my Muslim friends are willing to drink alcohol. Some of ‘em also doing sex before marriage, tapi hampir ngga ada yang mo makan babi. Alasannya simple… HARAM.

No PorkSetelah dicecer lebih jauh, beberapa ngeles dengan bilang babi itu ngga sehat. Tapi alkohol kan juga? Babi itu jorok. Ok, tapi have sex dengan PSK jauh-jauh lebih jorok.

Jadi kepikiran… andai ada mata kuliah Komunikasi Agama, mungkin para ulama bisa mengkonstruksi keengganan makan babi ini pada larangan agama lainnya, seperti maling, mabok, madat, main (judi), dan madon (wanita).

Well, ngga tau juga ya secara akunya juga sesat hehe… Tapi berani taruhan, banyak temen kalian yang seperti itu. Shalat ngga shalat, no pork i tell you!

* Muslim yang juga anti babi


Jan 5 2010

Hai Apa Kabar… Musik Dangdut Kita?

Soneta

The Fall of Dangdut

Tanpa musicianship berarti, suatu saat nanti Dangdut mungkin akan masuk dalam section golden memories. Ngga ada album baru, ngga ada penyanyi baru, hanya masa lalu. Ketakutan Rhoma Irama atas goyang Inul (terlepas apa motifnya) bisa jadi terbukti sudah. Bahwa artis Dangdut sendiri lah –dengan segala kegenitannya– yang telah menggali kubur mereka.

Continue reading


Nov 11 2009

Where Have All the Flowers Gone?

Osella

“Mo ngga jadi model Osella, lo tinggal jongkok, ntar gw kasih payungnya”.

Yup, saking terkenalnya, merek ini sampai jadi joke waktu aku SMP (90an). Aku juga sempat ‘ngiler’ lihat mobil VW yang dipake iklan Oto-Ono. Tiap acara sekolah pasti ada saja yang pakai C59, Country Fiesta, Hammer, Hassenda, H&R, Lea, Neckermann, atau Poshboy.

Secara kualitas dan model (waktu itu lho ya), merek-merek ini sangat dibanggakan, tapi entah kenapa posisi mereka makin tergantikan merek-merek rumahan (Distro) atau import sekalian (Mango, Zara, dll). Beberapa bahkan sudah ngga pernah terlihat sama sekali.

Salah satu ciri fashion adalah perubahan. Jadi, apakah karena merek-merek ini ngga bisa mengikuti perubahan trend atau ada faktor lainnya? Beberapa mata rantai industri ‘penampilan’ juga mengalami kejatuhan serupa. Let’s say Matahari. Dari retail-store papan atas, kini hampir tiap hari iklan diskon 50%, bersaing dengan Ramayana yang bahkan makin bawah lagi. Red-A dan Belia yang dulu kenceng iklan dan roadshow juga kian jarang terdengar.

Btw, waktu balik Jogja bulan lalu, sempat lihat desain Dagadu yang makin ngObey (setelah sebelumnya sempat nDistro). Apakah langkah seperti ini yang musti ditempuh fashion brand lainnya?

“Mo ngga jadi model Osella, lo tinggal jongkok, ntar gw kasih payung”.

Yup, saking terkenalnya, merek ini sampai jadi joke waktu aku SMP (90an). Aku bahkan sempat ngiler lihat VW yang dipake iklan Oto-Ono. Tiap acara sekolah pasti ada saja yang pakai C59, CF, Hammer, Hassenda, H&R, Lea, Neckermann, atau Poshboy.

Secara kualitas dan model (waktu itu ya), merek-merek ini bisa dibanggakan, tapi entah kenapa posisi mereka makin tergantikan merek-merek rumahan (Distro) atau import sekalian (Mango, Zara, dkk). Beberapa bahkan sudah ngga pernah terlihat sama sekali.

Salah satu ciri fashion adalah perubahan. Jadi, apakah karena merek-merek ini ngga bisa mengikuti perubahan trend atau ada faktor lainnya? Beberapa mata rantai industri ‘penampilan’ juga mengalami kejatuhan serupa. Let’s say Matahari. Dari retail-store papan atas, kini hampir tiap hari iklan diskon 50%, bersaing dengan Ramayana yang bahkan makin bawah lagi. Red-A dan Belia yang dulu kenceng iklan dan roadshow juga kian jarang terdengar.

Btw, waktu balik Jogja bulan lalu, aku lihat desain Dagadu yang makin ngObey (setelah sebelumnya sempat nDistro). Apakah langkah seperti ini yang musti ditempuh fashion brand lainnya? Mohon masukannya…


Nov 1 2009

Small is Great!

Adam Young“Fireflies, which became the fastest-selling electronic/alternative track ever” [wikipedia.com]

Hehehe.. ngomongin Owl City lagi but now let’s take a different angle. Pemikiran Naisbitt bahwa globalisasi akan membuat dunia digerakan unit-unit terkecil yang saling menguatkan lewat jaringan (digital), bulan ini disahihkan seorang Adam Young aka Owl City yang berhasil menduduki posisi #1 Billboard 100, menjual jutaan CD, serta konser keliling dunia. Dan semua, ia mulai dari basement-room di rumahnya. Continue reading


Oct 25 2009

Think Local, Act Global!

Jogja TV

Digitalisasi informasi memudahkan kita menjangkau setiap sudut dunia sehingga begitu mudah bagi sebuah kota di Indonesia untuk menyapa langsung penduduk California, pun kota lain di muka bumi.

Liburan ke Malang week end ini telah membawa saya ke tahun 2005, saat melakukan penelitian skripsi tentang TV lokal. Kini, empat tahun sesudahnya, tidak banyak yang berubah. Lebih lima stasiun TV lokal, termasuk dari Surabaya, dan semuanya masih terjebak dalam romantisme ‘Dari Kita untuk Kita’. Continue reading


Oct 19 2009

Menculik Siti Marwa!

Miyabi_Jilbab01

Untung Miyabi batal ganti nama jadi Siti Marwa (Siti: Ibu, wanita; Marwa: Maria Ozawa). Sebab jika jadi ganti nama hingga mudah masuk Indonesia,  publisitasnya mungkin takkan sebesar saat ini.

Miyabi sendiri sudah sarat talk value, apalagi saat kita dilarang membicarakannya. Alih-alih jadi antipati, bersama kompas dan puluhan media lain, masyarakat justru khatam mengajinya.

‘Kegenitan’ semacam inilah yang dulu melambungkan nama Inul Daratista.  Bahwa pencekalan, pembredelan, dan segala sesuatu yang menahan  keingintahuan, seringkali justru menjadi pematik yang membakar rasa penasaran. Terlebih jika langkah tersebut sudah masuk dalam jangkauan media massa.

Beruntunglah temen yang punya sampingan jualan VCD porno. Juga warnet-warnet di Jogja yang menyimpan belasan giga film-film Mbak Miya. Sebagai personal brand, sudah sepatutnya Miyabi berterima kasih pada ormas-ormas di Indonesia yang telah sukarela menjadi street marketernya.


Oct 2 2009

Air Asia for Humanity

Air Asia

Di saat maskapi lain menaikan tarif pesawat Jakarta-Padang hingga Rp 3 juta [detik.com], hari ini Air Asia mengiklankan penerbangan gratis untuk tanggal 4 Oktober ke Padang [Kompas cetak & airasia.com].

Saya belum melihat seat availability penawaran ini, tapi hati saya langsung tersentuh setelah kemarin dibuat geram oleh ulah maskapai lain.

Salut untuk Air Asia yang bisa menyikapi bencana Sumbar dengan lebih ‘bijak’ sebab di kondisi pasar yang kian emosional, ‘bantuan’ semacam ini niscaya menjadi investasi besar bagi branding Air Asia ke depannya.

Bagi maskapai lain yang menaikkan tarif hingga berkali lipat, semoga tidak ada dendam di hati penumpang yang berbuntut pada cidera branding Anda.


Sep 29 2009

Pekan Belanja Nasional

Lebaran 1

”Pemudik dan Pelancong Belanjakan Rp 45 Miliar di Bantul” [kompas.com]. Itu baru Bantul, entah berapa miliar rupiah yang mengalir ke Tegal, Kuningan, Padang, juga Makasar.

Mulai dari tuslah transportasi yang gila-gilaan; membuncahnya kunjungan wisatawan; belanja baju, oleh-oleh, dan penganan; hingga meningkatnya habit jajan. Minggu ini benar-benar menaruh “saving” ke  dalam peti mati yang baru dibuka sepekan kemudian.

Karenanya, jika 4 September ditetapkan sebagai Hari Pelanggan Nasional, mungkin ada baiknya jika libur lebaran dicanangkan sebagai PEKAN BELANJA NASIONAL.

Pekan di mana SES A-E membelanjakan uang dengan membabi buta. Dari belanja parcel di Grand Indonesia sampai sekedar bakso dorong yang lewat depan rumah. Pekan belanja yang tidak hanya terpusat di Jakarta, tapi merata di seluruh Indonesia.


Sep 29 2009

Bakso & Lebaran

ketupat

Entah di daerah lain, tapi di Jawa, lebaran ini bakso menjadi makanan sejuta umat. Beberapa lebaran, saya juga sempat jalan ke luar kota dan tiap melihat kumpulan kendaraan di depan warung maka hampir bisa dipastikan itu adalah warung bakso.

Bakso seolah menjadi self-reward setelah sebulan berpuasa. Bahkan menjadi  wisata lebaran bagi sebagian masyarakat karena nyatanya beberapa keluarga melihat jajan sebagai privilege of life yang jarang mereka miliki.

Saya sebut privilege karena dengan pola hidup agrarisnya, masyarakat desa di Jawa memiliki waktu luang untuk memasak. Jajan adalah pemborosan yang hanya dilakukan pada special ocassion, salah satunya hari raya.

Bakso menjadi prioritas karena selain disuka mayoritas penduduk, bakso juga paling affordable dibanding makanan lainnya. Berkisar 3 – 7 ribu, bakso tidak cuma tersebar di pelosok Jawa, tapi rajin mengetuk rumah ke rumah melalui denting mangkok di Abang yang sepertinya sadar akan habitus ini.

Bagaimana dengan lebaran di kota Anda?