Torabika Moka

Wirastomo

“Mo ngga jadi model Osella, lo tinggal jongkok, ntar gw kasih payungnya”.
Yup, saking terkenalnya, merek ini sampai jadi joke waktu aku SMP (90an). Aku juga sempat ‘ngiler’ lihat mobil VW yang dipake iklan Oto-Ono. Tiap acara sekolah pasti ada saja yang pakai C59, Country Fiesta, Hammer, Hassenda, H&R, Lea, Neckermann, atau Poshboy.
Secara kualitas dan model (waktu itu lho ya), merek-merek ini sangat dibanggakan, tapi entah kenapa posisi mereka makin tergantikan merek-merek rumahan (Distro) atau import sekalian (Mango, Zara, dll). Beberapa bahkan sudah ngga pernah terlihat sama sekali.
Salah satu ciri fashion adalah perubahan. Jadi, apakah karena merek-merek ini ngga bisa mengikuti perubahan trend atau ada faktor lainnya? Beberapa mata rantai industri ‘penampilan’ juga mengalami kejatuhan serupa. Let’s say Matahari. Dari retail-store papan atas, kini hampir tiap hari iklan diskon 50%, bersaing dengan Ramayana yang bahkan makin bawah lagi. Red-A dan Belia yang dulu kenceng iklan dan roadshow juga kian jarang terdengar.
Btw, waktu balik Jogja bulan lalu, sempat lihat desain Dagadu yang makin ngObey (setelah sebelumnya sempat nDistro). Apakah langkah seperti ini yang musti ditempuh fashion brand lainnya?
“Mo ngga jadi model Osella, lo tinggal jongkok, ntar gw kasih payung”.
Yup, saking terkenalnya, merek ini sampai jadi joke waktu aku SMP (90an). Aku bahkan sempat ngiler lihat VW yang dipake iklan Oto-Ono. Tiap acara sekolah pasti ada saja yang pakai C59, CF, Hammer, Hassenda, H&R, Lea, Neckermann, atau Poshboy.
Secara kualitas dan model (waktu itu ya), merek-merek ini bisa dibanggakan, tapi entah kenapa posisi mereka makin tergantikan merek-merek rumahan (Distro) atau import sekalian (Mango, Zara, dkk). Beberapa bahkan sudah ngga pernah terlihat sama sekali.
Salah satu ciri fashion adalah perubahan. Jadi, apakah karena merek-merek ini ngga bisa mengikuti perubahan trend atau ada faktor lainnya? Beberapa mata rantai industri ‘penampilan’ juga mengalami kejatuhan serupa. Let’s say Matahari. Dari retail-store papan atas, kini hampir tiap hari iklan diskon 50%, bersaing dengan Ramayana yang bahkan makin bawah lagi. Red-A dan Belia yang dulu kenceng iklan dan roadshow juga kian jarang terdengar.
Btw, waktu balik Jogja bulan lalu, aku lihat desain Dagadu yang makin ngObey (setelah sebelumnya sempat nDistro). Apakah langkah seperti ini yang musti ditempuh fashion brand lainnya? Mohon masukannya…
Electronic Ensemble kayna adalah istilah paling pas buat mendeskripsikan múm. Di tangan paguyuban yang didirikan duo multi-instrumentalis Örn Tynes-Smárason ini, musik elektro menjadi begitu analog dan membutuhkan kerjasama instrument lain untuk menghasilkan komposisi utuh.
Instead of repetitive dance beat, múm adalah sebuah literatur hybrid yang menggabungkan digital sound-processor dengan pita suara, gitar, string, xylophone, glockenspiel, akordeon, harmonika, flute, bahkan peluit serta belasan wacky-sound yang mereka jahit dengan teliti menjadi well- structured composition nan detail, tapi terasa minimalist sesampainya di telinga. Kita bisa menikmati 1st layernya sebagai hiburan easy listening atau masuk lebih jauh, memilah-milah belasan layer suara di dalamnya. Continue reading
“Fireflies, which became the fastest-selling electronic/alternative track ever” [wikipedia.com]
Hehehe.. ngomongin Owl City lagi but now let’s take a different angle. Pemikiran Naisbitt bahwa globalisasi akan membuat dunia digerakan unit-unit terkecil yang saling menguatkan lewat jaringan (digital), bulan ini disahihkan seorang Adam Young aka Owl City yang berhasil menduduki posisi #1 Billboard 100, menjual jutaan CD, serta konser keliling dunia. Dan semua, ia mulai dari basement-room di rumahnya. Continue reading