Hai Apa Kabar… Musik Dangdut Kita?

Soneta

The Fall of Dangdut

Tanpa musicianship berarti, suatu saat nanti Dangdut mungkin akan masuk dalam section golden memories. Ngga ada album baru, ngga ada penyanyi baru, hanya masa lalu. Ketakutan Rhoma Irama atas goyang Inul (terlepas apa motifnya) bisa jadi terbukti sudah. Bahwa artis Dangdut sendiri lah –dengan segala kegenitannya– yang telah menggali kubur mereka.

Terus menerus, genre ini terombang-ambing oleh trend sekitarnya. Hanyut dalam aliran disko, rock, campursari, dan terakhir dalam desahan pinggul penyanyinya. Dangdut bukan lagi musik. Dangdut adalah segala sesuatu yang melekat pada plagiatisme.

Pekan lalu, Fazal Dath Sang Composer, sesumbar bahwa ia telah menemukan formula inovatif pada lagu baru Manis Manja Grup. Setelah dimainkan, ternyata tak lebih sekedar adaptasi God is a Girl-nya Groove Coverage, yang di genre elektro pun sudah masuk kategori basi.

Stagnasi Dangdut lah yang menurutku telah membesarkan ST12, Kangen Band, dan The Melayus lainnya (bahkan Ungu) yang secara laten maupun paten telah men-take over pasar Dangdut.

The Rise of Indian Music

Sejak eksplorasi The Beatles (mungkin sebelumnya) di album Sgt. Peppers, musik India terus digali para musisi barat, utamanya Rock dan Jazz, yang kemudian turut melahirkan sub-genre Raga Rock. Tak mau kalah, Hip-hop, Avant Garde, New Age dan World Music pun kini juga acap mengendarai musik India menuju komposisi-komposisi barunya.

Namun kebangkitan fenomenal justru terjadi saat A.R, Rahman, musisi kebanggaan India, menggarap soundtrack film Slumdog Millionaire. Lewat kolaborasinya dengan PCD, Jai Ho menjadi mantra baru di tangga nada dunia, melahirkan trend baru musik latar Hollywood.

Di India sendiri, Dileep Kumar –nama aslinya sebelum jadi Mualaf– adalah jaminan mutu sebuah soundtrack. Beberapa film bahkan menulis title-nya sama besar dengan nama actor dan director. Selain A.R. Rahman, nama lain yang kerap menyumbangkan musiknya di pagelaran film dunia adalah Nitin Sawhney dan Rahat Fateh Ali Khan (Pakistan tepatnya).

Nama terakhir inilah yang memaksaku membuat tulisan ini. Lagu O Re Piya yang menjadi soundtrack Talentime –besutan Alhm. Yasmin Ahmad– telah membuka lubang besar di benakku. Bagaimana lagu yang begitu nDangdut ini mendapat international recognition? Sedang Dangdut, yang meleburkan musik India dan Melayu, makin terpuruk di ujung jaman, tanpa identitas.

Dream of Resurrection

Sampe hari ini, praktis cuma tiga nama yang jadi 1st recalku saat ngomongin musicianship Dangdut; Rhoma & Soneta, Reynold Panggabean, dan PMR (silakan ditambahi kalo ada nama lain). Karya-karya mereka lah yang aku tak malu mendengarkan. Sisanya? Bagiku hanyalah pantat berbungkus nada.

Berharap pada penyanyi Dangdut yang ada sepertinya akan sia-sia. Justru jenius macam Viky Sianipar, Ahmad Dhani, mungkin Melly, yang menurutku bisa diharapkan. Mungkin juga musisi baru. Siapa pun dia, semoga Dangdut bisa terbebas dari erotisme dan ratap kesedihan. Sebagaimana A.R. Rahman yang telah mengalirkan musik India ke pengelanaan-pengelanaan barunya. Begitu kaya, namun tak larut esensinya.


Leave a Reply